Langsung ke konten utama

Postingan

" Entahlah " Kita mememang Garuda

lensasemutireng.blogspot.com _ coba lihat di sekitar kita di jaman ini, di awal tahun 2021 banyak bencana yang melanda di beberapa tempat. Lalu coba lihat di sekitar kita para pelaku usaha kecil dan menengah merintih dan menangis di dalam hatinya, ngeluh, lelah tapi tidak terucapkan, mereka pasti akan bilang " ya beginilah hidup " dijalani dengan Sabar.  Disamping itu kita juga masih bernafas di jaman virus dimana-mana sekan kita benar-benar terbungkam takut untuk bertindak, informasi berita dan status kawan di sosial media tanpa kita sadari membuat pembatas kesadaran.  Garuda didalam plastik seperti kita sekarang ini, jeratan tali di leher seperti posisi rakyat kecil sekarang ini, kita bisa saja tidak bekerja, tidak bergaul, tapi kita tidak bisa tidak makan. Oke begini saja, seorang laki-laki / wanita ataupun orang tua rela kok sehari makan sehari asalkan anak anak mereka makan dan sehat, kalian bisa katakan kita ini orang ngeyel. Kita bukan ngeyel. Tapi kita tid...

belajar di tahun kembar

Lensasemutireng.blogspot.com _ 2020 angka kembar yang aku lewati masa ini. Tinggal menghitung hari angka sudah berubah lagi, apa yang akan terjadi? seakan waktu itu begitu cepat, seakan aku merasa kurang tentang waktu ini. 2020 menjadi tahun dimana aku dapat benar-benar belajar melihat dan berkaca di cermin yang bening. Tahun 2020 seperti cambuk dunia agar aku sadar kalau aku hidup, hidup harus bermanfaat walau tahun ini banyak kekecewaan, kegagalan, ketidak produktifan dalam berkarya setidaknya ini adalah tahun dimana aku harus mengolah rasa dan pikiran agar kelak lebih baik, dan tumbuh, mekar kembali di tahun yang akan datang. aku harus berdiri tegak berjuang menggapai mimpi, tanpa menyerah dan putus asa, memang seperri ini lah hidup, tidak perlu aku melihat fatamorgana yang bukan jalanku. Yang perlu aku lakukan adalah berjalan, berjuang. Tidak perlu aku berfikir tentang hasil karena itu bukan tugasku.

Menyapa adalah bahasa cinta

Lensasemutireng.blogspot.com_ Setiap pagi aku dan anakku Gading menyambut mentari di tepijalan yang masih jarang bangunan. Dedaunan dan padi menjadi penyejuk mata kami, seakan aku memang harus belajar melihat dan memaknai dari segala hal dengan bahasa cinta. Di usiaku yang sudah berkepala tiga tapi aku belajar dengan sosok anak balita yang baru berumur satu tahun. Tidak mengucap dengan jelas, hanya menggunakan ekspresi kami bisa mengerti dan tertawa bersama. Orang-orang dewasa bilang bahwa bayi itu tidak mengerti, ora mudeng!. Tapi ada hal yang menggelitik nalarku, sehingga aku coba meneliti dengan mengamati dan belajar mendengar kepada anakku. Dari keseharian anak itu selalu menyapa siapa saja yang melintasinya, seakan ia ungkapkan hai... Sungguh ramah anak ini, dan cara berfikir natural, jujur tanpa ada batasan dan kebohongan dalam ekspresi yang terlihat membuat aku harus bercermin diri. Haruskah manusia itu berprasangka terhadap mahluk lainnya.

RUWET

  lensasemutireng.blogdpot.com _  Hari-hari ini sangat terasa panas, hawa dingin terkadang datang. Terkadang juga menjelang sore hari hujan turun menyirami halaman kampong kami, aku diam dan memperhatikan, ada apa ini?   Aku anggap ini biasa-biasa saja, bukan tanda dari alam, walau aku sebenarnya tidak tau apa-apa. Hanya pikiran yang halusinasi.   Aku ini cuma bagian isi dari kota, dan kota bagian dari pulau, pulau – pulau itu bukan Indonesia, Tapi Indonesia bagian dari kami yang banyak. Para petinggi-petinggi Negara dan para pengusa ibarat seperti dewa yang tidak pernah kenyang dengan hidangan sepesial dari sang maha kuasa sekan perlahan makin lama ingin menyaksikan penderitaan manusia yang KATANYA mahluk sempurna? Tapi sisi bringas dan rakus bagai binatang tanpa ada rasa dan kesadaran berfikir, sekan di otaknya tetang kepentingan personal dan kelompok yang menentukan kebenaran secara sepihak tanpa ada rasa kasih saying, sepertinya mereka itu tidak memil...

Perubahan perlu mengorbankan.

lensasemutireng.blogspot.com _ Merekam di jalanan, melihat perubahan secara perlahan. karena aturan, kebudayaan mulai menepi dari tengah kota.   Sebelum senja tiba aku berjalan tidak tau kemana, tancap gas mengikuti naluri dan roda bergulir. Aku terhenti melihat perubahan jalanan yang lagi dibangun lebih megah demi menghindari kemacetan, di tepian jalan tertutup pembatas hingga para pedagangpun tutup, dan tersisa satu yang tetap yakin berdagang, walau tidak ada yang memperhatikannya. Sebagian mulai terlihat tanda dan kata " tanah ini di jual" . Sudah dilanda pandemi, para pedagang kaki lima di tepi jalan di setiap malam yang sering di sebut PASAR SENGGOL itu kini tinggal cerita. Berpindah tempat di sepertiga batas kota, entah nasip mereka seperti apa. aku melihat laju para pengguna jalan tanpa ada lawan, jalur seperti lorong sepi tiada kehidupan. Terlihat dua manusia bertato tapi berjiwa ramah menyapaku, " DINGGO KORAN MAS?...

Bercermin untuk mencari Keyakinan dan Ketekunan

Lensasemutireng.blogspot.com _ aku pernah berbicara dengan seorang biksu yang bijak, ia mengatakan hal tentang kehidupan dari pandangan keyakinannya. Kata Sang Buda " Hidup Di Dunia itu Sulit" karena kita di kasih tanggung jawab, tugas dan peran dalam hidup. Maka selalu ingat dengan sang pencipta Aku berjalan menuju keramaian untuk bercermin, aku berdialog untuk melepas amarah. Lalu aku berjalan menelusuri lorong-lorong dinamika, yang aku temukan adalah keyakinan dan ketekunan. Aku duduk sejenak sambil menikmati sebatang rokok dan segelas teh panas di siang bolong mengamati drama di depanku yang tiada hentinya hingga akhir waktu. Menyapa para pejuang dengan pusaka SUMEH, memulai dialog cinta tanpa ada batas siapa kamu dan siapa aku?. Dialog kami pada akhirnya mencuri para pejuang rupiah lainnya, mereka saling menyapa dan saling mengeluarkan pusaka SUMEH untuk memikat.  Pada akirnya aku kuasai satu lorong itu menjadi drama cinta bersama. ...

Keluh Sang Bunga Telah terdengar

lensasemutureng.blogspot.com _ Keindahan - keindahan di tepian jalan perkotaan terlihat sejuk karena suburnya tanaman kota, mereka bercengkrama melalui udara dan jaman yang membuat mereka bertahan, berkembang dan berevolusi seiring perjalanan waktu.  Tanaman - tanaman itu tidak berakal, tetapi berjiwa, memiliki kesadaran tumbuh dan di tugaskan oleh sang pencipta untuk menjadi pendamping kehidupan manusia, tapi sepertinya manusia benar-benar tempatnya lupa, kalau mereka juga sumber dari adanya udara dan penyaring racun industri yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Tanaman itu mulai mengeluh kepada sang pencipta, " ya Tuhan, sungguh sesak setiap hari kami menghirup udara yang penuh dengan polusi, adab transportasi dan uap industri menyiksa kami ditambah sodara kami di penjuru dunia sudah di tebang yang katanya untuk perkembangan jaman, kami yang tersisa dan yang tumbuh di tengah kota harus menyaring sampah-sampah mereka tanpa mereka tau, sampaikan pesanku kepadanya...